Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH


Langit Masih Biru & Akan Kembali Biru

Blog EntryNov 21, '07 10:29 AM
for everyone
    

Aku rindu zaman itu, ketika halaqoh adalah kebutuhan

 bukan sekedar sambilan apalagi hiburan.

 

Aku rindu zaman itu, ketika membina adalah kewajiban

bukan pilihan apalagi beban dan paksaan.

 

Aku rindu zaman itu, ketika dauroh menjadi kebiasaan

bukan sekedar pelengkap pengisi program acara yang dipaksakan.

 

Aku rindu zaman ketika tsiqoh menjadi kekuatan,

Bukan keraguan apalagi kecurigaan

 

Aku rindu zaman ketika tarbiyah adalah pengorbanan

bukan tuntutan apalagi hujatan.

 

Aku rindu ketika zaman nasihat menjadi kesenangan,

Bukan su’udhon atau menjatuhkan

 

Aku rindu zaman ketika nasyid ghuroba menjadi lagu kebanggaan.

 

Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi dauroh dengan ongkos ngepas dan alamat tak jelas.

 

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta sepulang tabligh da’wah di desa sebelah.

 

Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infaq, alat tulis buku catatan serta Al qur’an terjemahan, ditambah sepenggal hapalan.

 

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah berangkat liqo dg ongkos jatah belanja esok  hari untuk keluarganya.

 

Aku rindu zaman ketika seorang binaan menangis ketika tdk dapat menghadiri liqo.

 

Aku rindu zaman ketika seorang murabbi sakit dan harus dirawat, para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya.

 

Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk da’wah ini.

 

Aku rindu zaman itu

 

Aku rindu ….

 

Ya Allah jangan kau buang kenikmatan berda’wah dari qolbu-qolbu kami

 

Dan jangan Engkau jadikan hidup kami ini hanya berjalan di tempat yang sama.

 Ya Allah.

 

Tarbiyah bukanlah segala-galanya

Tetapi segala-galanya berawal dari tarbiyah!

 

Da’wah tidak membutuhkan kita

Tetapi kitalah yang membutuhkan da’wah!

 

 

 

Kiriman seorang sahabat seperjuangan, semoga Allah merahmatinya.

 

Aku posting disini karena juga ada kerinduan yang teramat besar terhadap itu semua, sebagaimana dapat mudah ditemui ketika gerakan dakwah ini belum memasuki mihwar muasyasi.

 

Salam tuk semua sahabat perjuangan di bumi Allah. Semoga Allah tetap menjaga keikhlasan kita dan memelihara ghirah di dada kita dalam menegakkan izzatul islam wal mu’minin.


aisyahhumairahikram wrote on Nov 21, '07
aku rindukan juga zaman itu.. ( ^ _ ^ )
moeja wrote on Nov 23, '07
aku rindukan juga zaman itu.. ( ^ _ ^ )
Aku rasa setiap kita yang pernah melalui zaman itu akan merindukannya tuk bisa hadir kembali saat ini...
yuk...Tarbiyah Dzatiah.
sala33 wrote on Nov 25, '07
ana tambahin nih akh...
Aku rindu ketika berhujan-hujan menuju tempat Lq, naik sepeda motor ama akh Imran, ketika kesasar (kampung MR lumayan ribet ^_^), diketawain anak-anak kampung yang ngeliat kita mondar-mandir basah kuyup....
moeja wrote on Nov 25, '07
sala33 said
ana tambahin nih akh...
Aku rindu ketika berhujan-hujan menuju tempat Lq, naik sepeda motor ama akh Imran, ketika kesasar (kampung MR lumayan ribet ^_^), diketawain anak-anak kampung yang ngeliat kita mondar-mandir basah kuyup....
Jazakallah dah ikut buka memorinya... ;-)
Uhibbuka fillah Akhie...
kapan nih silaturahim ke Solo lagi?
Salam tuk ikhwah Jakarta :-)
sanggelombang wrote on Nov 28, '07
assalam....
ana menangis akh waktu membaca warna hati antum di atas.
ana juga merindukan detik2 itu.
mari kita mengajarkan detik2 itu kembali kepada anak2 kita (ana belom nikah, he...) serta binaan kita (klo ini udah punya).
naudheedee wrote on Dec 12, '07
wah... jadi berharap mengalami..
fathimah wrote on Dec 14, '07, edited on Dec 14, '07
Kerinduan itu akan selalu ada pada diri kita yang pernah melaluinya...
tapi ikhwatifillah, jangan sampai kita terlenakan oleh kerinduan itu.
saat ini sangat berbeda dengan saat dahulu
seperti kisah Umar Bin Khottab ra, pada suatu saat ia rindu sekali berkumpul dengan para sahabat dan rindu pada saat-saat bersama Rasulullah saw. dan ketika musim haji tiba, ia berjumpa dengan para sahabatnya yang sedang berhaji pula. namun hanya sebentar, lalu Umar menahan mereka untuk bermalam di rumahnya untuk reuni karena rasa rindu yang luar biasa di hatinya.
tapi apa kata Bilal, "wahai amiril mukminin, saat ini tidak sama dengan saat dimana kita selalu bersama dengan Rasulullah. Kau telah menugaskanku untuk memimpin sebuah daerah, dan tanggung jawabku terhadap umatku. aku tidak bisa berlama-lama meninggalkan mereka."

yang aku petik dari kisah di atas adalah, saat ini kita harus berupaya bagaimana ruhiah kita seperti saat dulu (mungkin harusnya lebih baik) ditengah aktivitas dan amanah yang kita emban jauh lebih berat dan banyak tuntutan dakwah yang sangat luar biasa dibandingkan waktu dulu.
dulu kita hanyalah seperti ormas biasa yang kegiatannya hanya dari dauroh ke dauroh sehingga wajar saja jika suasana ruhiah sangatlah kental. tapi sekarang, masyaAllah...sobat sekalian sudah bisa merasakannya.
hidup kita untuk ummat seperti perkataan Bilal.

semoga pandangan ini dapat membuat kita lebih kreatif dalam meningkatkan ruhiah di sela-sela kesibukkan kita.

amin

tramdqi wrote on Feb 24, '08
akupun rindu, dan bukanlah keriduan itu tanpa arti apalagi dianggap melenakan sehingga akan membuat kita terbuai, namun kerinduan itu akan memberikan energi untuk melaju dan melaju menuju arahnya karena apa yang kita lakukan dalam perjuangan ini adalah jua berawal dari sebuah kerinduan. kerinduan akan tegaknya dinnul haq.
Add a Comment